Saat Dirimu Pergi
Senja di sore hari mengingatkan aq di saat-saat terahir aq menatap wajah mu….. ingin rasanya hati kembali pada saat-saat seperti itu…
Kepergianmu memang untuk sementara, tapi aq rasakan berat dihati yang sangat dalam, banyak hal yang aq kuatirkan.
Kau peluk aq dan kau pegang tangan q kau ucapkan “sampai ketemu lagi…. Aq pasti akan kembali…!” butiran air mata membanjiri wajah polos… menggoreskan luka dalam hati…
Senja disore ini membaluti sepi dalam keramaian kota, tampa kehadiranmu disini terasa hampa dan semu, mungkinkah aq dan u kan bertemu lagi? Kapan? Dimana? Jika engkau kembali lagi disini, apakah u tetap miliku seorang diri ?
Terasa sesak dalam hatiku,,,, mengiringi kepergianmu ini… dalam hidupku, Cuma kamu yang ku sayang… dalam ingatanku hanya bayangan wajahmu, dalam mimpiku hanya tawa dan cerita mu yang lucu, juga dalam Doa-Doa q hanya namamu yang slalu kusebut… aq benar mengasihimu ….
Ingin rasanya ku lepaskan rasa sepi dan rindu dihatiku…. Tapi aq tak tau bagaimana caranya… yang ku tau hanya kehadiranmulah yang bisa melepasakan rasa itu!
A Memory To Comet (part 1)
Waktu Comet berumur 5 tahun,Comet sendirian di pantai.Karena,besok,adalah hari dimana ia harus pindah ke kota yang sangat asing.Ketika ia menangis,ada seseorang yang duduk disampingnya.Comet pun membalikkan wajahnya ke orang itu.Dan ternyata orang itu adalah cowok yang berusia 8 tahun.Dan cowok itu menanyakan pada Comet.
“Comet,kenapa kamu menangis?”Tanya orang itu
”Aku tidak mau pindah ke kota asing.Aku takut pindah ke kota itu.”jawab Comet
”Jangan nangis dong,aku janji deh,mudah-mudahan,tujuh tahun kemudian,kamu pasti akan pindah lagi di kota ini.”kata orang itu seolah menghiburnya
”ka....kamu janji??”tanya Comet
”Tentu”jawabnya
”JANJI”teriak kedua orang itu
”Aku pasti akan menunggumu”kata orang itu.
”Iya,makasih”
***********
7 tahun kemudian,Cometpun kembali ke kota ini.Lalu,ia masuk di SMP yang dekat dari pantai,tempat yang penuh kenangan.Comet pun memperkenalkan diri di hadapan teman barunya
”Selamat pagi,namaku Comet Asahina.Dulu aku tinggal di kota ini sampai berumur 5 tahun.Salam kenal”sambut Comet.
Kemudian,wali kelasnya mempersilahkan Comet untuk duduk.Tepat pada waktu istirahat,beberapa temannya pun memperkenalkan diri pada Comet.
”Hai Comet”sapa orang itu
”Hai juga,namamu siapa?”tanya Comet
”Aku Mira Hanami”jawab Mira
”Dan aku Haruka Aizawa”jawab Haruka
”SALAM KENAL”kata Mira dan Haruka
”O ya,bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita pergi ke pantai,kebetulan anginnya lagi sejuk”ajak Haruka
”Pantai????ngak salah tuh”kata Mira
”sudahlah,kebetulan,aku juga mau ke pantai.”kata Comet
”benarkah,comet?”tanya Haruka
”Tentu saja.”jawabnya
”ASIIIK”Kata Haruka
”sudahlah!daripada basa-basi mending kita tunggu bel pulang,trus kita langsung ke pantai”pinta Mira
“Ok.....”
Bel pulang sekolah pun telah berdering.Comet,Mira,dan Haruka cepat-cepat pergi ke pantai.Dengan berjalan kaki 20 meter dari sekolah,dan akhirnya merekapun telah sampai ke pantai.....
“hei,kita duduk di pasir itu yuk!”ajak Comet
“Kamu aja deh,Comet.Kami masih mau berdiri”tolak Mira dan Haruka.
Kemudian,Comet pun duduk di pasir pantai.Dan secara tidak sengaja,Comet melihat seorang cowok yang sedang menjalankan tugas sebagai bodyguard.Menurut pandangan Comet,cowok yang dia lihat itu bukanlah orang dewasa,tetapi cowok itu masih SMU kelas 1.
Mengapa Comet mengetahui kalau dia siswa kelas 1 SMU???karena Comet melihat seragam sekolahnya di sebelah tempat ia duduk.Secara bersamaan,cowok itu datang ke kursi tempat dimana Comet melihat seragam itu,karena ia telah menyelesaikan tugasnya sebagai Bodyguard di pantai.
Tiba-tiba,seragamnya pun jatuh di pangkuan Comet.Dan Comet mengembalikan seragam itu ke cowok yang bekerja sebagai bodyguard itu.Tapi saat ia ingin mengembalikannya,Comet terdiam sejenak.”Perasaan,aku pernah liat mukanya deh.Tapi dimana?”batinnya dalam hati
Bersambung........
A Memory To Comet (part 2)
Dan kemudian,cowok itu meminta Comet agar mengembalikan seragamnya.
”Misi,bisa saya ambil seragam yang jatuh di pangkuan anda?”tanyanya pada Comet.
”Ya,silahkan”jawab Comet dan kemudian.....
Hening sejenak.Muka mereka sangat berdekatan.Muka mereka berdua menjadi merah,tapi suasana pun menjadi ramai ketika Mira dan Haruka berteriak menyapa cowok itu
”KEISUKEEEEE!”Teriak Mira dan Haruka.Kemudian cowok yang bernama Keisuke pun membalas sapaannya
”APAAN????”tanyanya
”SINI DONG!”teriak Mira
”COMET,KAMU JUGA KE SINI!”ajak Haruka ke Comet.
”Ah,iya”jawab Comet
Kemudian,Comet dan Keisuke pun menuju ke Mira dan Haruka.
”Keisuke,kenalin.Namanya Comet Asahina.Dulu ia tinggal di sini sampai berumur 5 tahun.”kata Mira sambil mengarahkan tangannya ke Comet
”Nah Comet,kenalin juga nih!Namanya Keisuke Mishima.Ia menjadi Bodyguard di pantai ini baru setahun yang lalu.”detil Haruka
”Aku Comet,salam kenal.”sambut Comet
“Ogahan deh kenalan dengan cewek”ketus Keisuke
“APA!!!”teriak mereka bertiga serentak
“heyheyhey,Keisuke,dia kan orang baru.Jadi kenalannya harus baik.Ngak kayak tadi!”jelas Mira
“iyaiya deh!salam kenal,bodoh!”balas Keisuke pada Comet.Tapi Comet tidak bisa menahan amarahnya
“O ya!!Makasih juga bodoh!”jawabnya ketus
“he…jangan bertengkar dulu dong.Baru kenalan sudah bertengkar.”kata Mira
“Daripada bertengkar,mending kita makan aja yuk di restoran dekat sini.Kamu mau ngak,Comet?”ajak Haruka
“Iya deh!”jawabnya
“Keisuke,kami tinggal dulu ya!bye!”kata Mira
”daaaa”jawabnya
Kemudian,dalam perjalanan ke restoran
”Comet,kok bisa ya km dikasih begitu sama Keisuke?”Tanya Mira
”Tau tuh!Aku ngak peduli ama dia”jawabnya ketus
”Biasanya,kalau Keisuke kenalan sama cewek,dia ngak kayak tadi.Waktu kita kenalan sama Keisuke,dia malah jadi baik”cerita Haruka.
”Aneh juga itu orang ya.Kok kalau aku kenalan sama dia,malah ia cuek!tapi kalau sama kalian,dia baik.”kata Comet.
Kemudian,Mira dan Haruka berbisik.
”kalau begini,jangan2 Keisuke suka sama Comet”bisik Mira
”WHAT!!!Tapi klo dia sama Comet kan,dia bersikap cuek!!!”bisik Haruka
”Itu namanya CINTA!!!!Orang itu bisa bersikap cuek justru karena cinta”bisik Mira lagi
”kalian lagi bisik tentang apa sih?”tanya Comet pada Mira dan Haruka
”tidak kok”jawabnya serentak
”Mira,Comet,kita udah sampai nih”kata Haruka
”Ah iya!disini restorannya.Selain makanannya terjangkau,harganya murah lagi!”kata Mira pada Comet
”Tunggu apalagi,kita masuk yuuk!”ajak Comet
”Ayo!!!”
Setelah kejadian itu,keesokan harinya Comet tetap ingin pergi ke pantai tanpa sepengetahuan Mira dan Haruka.Tepat bel pulang,Comet langsung GOES TO BEACH.Setelah Comet tiba di pantai,Comet langsung duduk di tempat yang ia tempati kemarin,dan Comet melamun tentang masa lalunya di pantai.Sungguh kenangan yang indah baginya.Karena di pantai inilah Comet bertemu dengan FIRST LOVEnya.
Comet sudah terlanjur berjanji pada cinta pertamanya agar tujuh tahun kemudian ia ketemu lagi di pantai,tapi sampai sekarang,cowok itu belum datang.Dan lamunan Cometpun buyar ketika Keisuke menyapanya
”Hai cewek bodoh.Kok malah melamun di sini?”tanya Keisuke
”Itu kan mauku.Mau melamun atau tidak,itu juga urusanku.Kak Keisuke”jawabnya
“jangan pnggil aku Kak Keisuke dong!”katanya ketus
“Trus aku panggil nama kakak siapa dong?Kak monster,Kak Cumi-cumi,atau Kak Bodyguard???”canda Comet
“panggil aja Keisuke.Aku ngak suka dibilang monster-cumicumi-apalagi bodyguard”kata Keisuke datar
Dheg.Jantung Comet berdetak.
“HOY COMET!”kata Keisuke
”Eh...Maaf”jawabnya
”kok tiba-tiba aku jadi aneh sih???JaNGaN2 AkU SukA SaMA KeiSukE!!OH No!!!!Jangan-jangan-jangan!”batin Comet dalam hati
**********
Bersambung ke part 3
A Memory To Comet (part 3)
"Woy,ngapain kamu bengong lagi???Daripada bengong,mending kamu pergi aja deh ke tempat lain!"tanya Keisuke
"huh!siapa yang bengong!!orang lagi liat laut!"jawabnya ketus
"Laut....."kata Keisuke datar
"Hoy,emangnya kenapa kalau aku liat laut??"tanya Comet
"Comet,mending aku ceritain deh tentang masa laluku yang baik dan buruk"jawab Keisuke yang mendadak jadi baik
"Hah,masa lalu!!"kaget Comet
"Ya,daripada kita berdiri,kita duduk aja deh di pasir tempat dimana kamu duduk!"ajak Keisuke
Kemudian sesuai perintah Keisuke,Comet dan Keisuke duduk di pasir pantai dan Keisuke pun mulai bercerita tentang masa lalunya
"Tujuh tahun yang lalu,aku pernah ketemu seorang cewek.Tapi aku lupa namanya siapa.Di pantai ini,aku dan cewek itu berjanji agar 7 tahun kemudian,aku bisa ketemu lagi dengan cewek itu!"cerita Keisuke.
DHEG!kok bisa ceritanya sama ya dengan comet??????
"Trus apa kenangan burukmu??"tanya Comet lagi
"terus tiga tahun setelah cewek itu masih di luar kota,teman masa kecilku,Kaiken(cowok) meninggal dunia.Padahal karena dia,aku bisa dekat sama cewek itu.Hilanglah semua sumberku tentang cewek itu."jelas Keisuke
DHEG.Jantung Comet kembali berdebar.Belum sempat Keisuke melanjutkan ceritanya,Comet sudah pamit duluan
"Keisuke,sudah dulu ya ceritanya"kata Comet sambil mengeluarkan air mata kenangan
"Comet.....kamu kenapa..."tanya Keisuke khawatir
"kamu ngak usah tau!"jawabnya dengan sangat ketus
Kemudian Comet pun berlari meninggalkan pantai.Keisuke hanya diam di tempat.Ia masih belum mengerti,apakah cewek yang selama ini ada dalam dirinya itu...Comet?????
"kok ceritanya bisa sama dengan ceritaku.........jangan-jangan dia itu.....cowok yang selama ini kuimpikan tujuh tahun yang lalu"batinnya dalam hati.Kemudian Comet ketemu dengan Mira,Haruka,bersama.....sepasang cewek dan cowok yang tidak dikenalnya,tapi seragamnya,sama dengan seragam yang dikenakan oleh comet
"HEY COMET"teriak Mira
"SINI...SINI"kata Haruka
"Ya,kenapa???"tanya Comet yang sementara menuju ke sumber suara itu.
"Comet,kenalin nih!namanya Sakura Katayanagi dan Kamatari Takekawa.Mereka ini anak kelas 1@1 yang sekarang ini hubungan mereka digosipkan satu sekolah"cerita Mira pada Comet
"Hai Comet,saya Sakura Katayanagi,dan ini pacarku,Kamatari Takekawa.Salam kenal ya Comet."kenal Sakura
"panggil aku Takekawa dan pacarku,Sakura"jelas Takekawa,pacar Sakura
"Salam kenal juga.Namaku Comet Asahina."kata Comet.
"oh iya,Mira,Haruka,Sakura dan Takekawa,aku pergi dulu ya.Dah"kata Comet
"EHEHEH.........................................."Teriak Mira
"Sudahlah Mira,dia pasti tidak dengar.Ayo kita pergi ke tempat yang kita janjikan."kata Haruka mengajak MST
"AYO,jangan sampai ketahuan Comet,ini rahasia kita-kita."lanjut Mira
bersambung...
A Memory To Comet (end-part)
Kemudian,keesokan harinya di jepang mengalami perubahan musim,dari musim natsu(panas) ke musim aki(gugur).Di sekolah Comet,murid2 bebas memakai pakaian lengan panjang,dan lengan pendek.Dan Comet tetap mengenakan pakaian lengan panjang,sedangkan Mira dan Haruka mengenakan pakaian lengan pendek.
Pada waktu istirahat berlangsung,Mira pun memanggil Comet
”Comet,bentar ada waktu luang ngak??tanya Mira
”Ngak ada sih.Emangnya kenapa??”tanyanya balik
”Gini,Sakura dan Takekawa undang kamu nih!”jawab Mira
”UNDANG???dalam rangka apa??dan dimana ia ketemuan??”tanya Comet
”Katanya sih,dalam rangka memperingati setahun jadian.”jawab Mira
”trus tempatnya dmana??”tanyanya lagi
Tiba-tiba,Haruka muncul secara mendadak dan menjelaskan semuanya pada Comet
”Gini ni ya!!!kan hari ini itu,tepat satu tahun jadiannya Sakura dan Take,jadi dia mengundangmu ke pantai,tempat dimana Take dan Sakura jadian.Otomatis,kami juga diundang”kata Haruka
”Haruka......sejak kapan.....kamu muncul sebagai......”kata Comet
”sebagai apa!!!”hardik Haruka
”bercanda kok.Hehehehehe”jelas Comet
Kemudian,Sakura datang ke kelasnya untuk menemui Comet
”Comet”panggil Sakura
”ada apa Sakura”kata Comet pada Sakura
”Kamu jadi kan ke pantai sebentar??”tanya Sakura
”sudah pasti jadi dong.”jawabnya
”bagus,aku tunggu ya di pantai jam setengah enam”kata Sakura
”HEH!jam setengah enam!!!”kata Comet
”iya,kutunggu loh!Bye Comet”kata Sakura
”Sampai ketemu jam setengah 6 ya”teriak Comet
Dan kemudian,Mira dan Haruka keluar dari kelas dan menemui Sakura langsung dari taman sekolah tanpa sepengetahuan Comet
”Step 1 nya beres,tinggal menunggu step keduanya.”kata Mira
”iya”kata Sakura
”Keisuke juga datang kan?”tanya Haruka pada Sakura
”So pasti dong!!Kan kita sudah jelaskan pada dia kalo sebenarnya comet itu....................”kata Sakura
Kemudian bel pun berbunyi,Mira Haruka dan Sakura masuk ke kelasnya dan tinggal menunggu rencana selanjutnya
Tepat pada pulang sekolah,Comet pun menemui Mira
”Mira,bagaimana kalau kita pergi bersama???kan bagus kalo pergi bareng!!”ide bagus untuk Comet
”ah ngak deh!!mending sendiri aja”kata Mira
”Tapi Mira kan hari ini ada les!”kata seseorang yang ternyata itu Haruka
”oh begitu ya,Mira??”tanyanya pada Mira
”i....iya”jawab Mira
”Haruka,bagaimana kalau sama kamu aja??tanya Comet pada Haruka
”eh....aku juga les bareng Mira.Jadi tidak bisa”kata Haruka
”ooohhhh....”kata Comet
”Kalau begitu,aku berangkat sendiri aja ya”kata Comet lagi
”klo begitu,kami tunggu di pantai jam setengah enam.”kata Mira
Kemudian,sesuai janji Sakura,Comet pun pergi ke pantai jam setengah enam.Ketika ia sampai di pantai,Comet terkejut karena tidak ada orang di pantai selain.......Keisuke,cinta keduanya.”kok bisa orang yang kusukai ada di sini”batinnya dalam hati
Keisuke pun sadar adanya Comet di tempat kenangannya itu.
”COMEEEET!”panggil Keisuke
”Eh,hei Keisuke.”jawab Comet
”Sini!!”perintah Keisuke
”Ada apa sih???”tanya Comet
”ada yang mau kukatakan sama kamu,tapi jangan marah ya.”Jawab Keisuke dengan wajah yang merah padam
”cepatlah!!karena aku mau ketemuan sama teman yang lain”kata Comet
”eh Comet.......sebenarnya........cinta pertamaku........7 tahun silam......adalah.....”gugup Keisuke
”siapa????”tanya Comet dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu
”ka......kamu Comet Asahina....”jawab Keisuke
”APAA!”teriak Comet
”aku tahu,orang yang kuhibur tepat pada hari ini tepat pada sore hari,adalah kamu.Karena waktu kemarin,kamu menangis mirip dengan cewek itu.Makanya aku langsung tau kalau itu adalah kamu.”terang Keisuke
Namun tidak ada jawaban di pihak Comet.setelah diam beberapa saat,Comet pun langsung bicara
”Aku juga dari dulu sudah tau klo itu kamu,tapi aku tak yakin.Apakah aku salah pilih orang atau tidak.Maafkan aku Keisuke.”kata Comet.Kemudian,Keisuke pun memeluk Comet
”ngak apa-apa,asalkan menepati janji itu,perasaan tidak akan berubah kan!!”kata Keisuke bijak
”iya”jawab Comet yang mulai menangis karena saking bahagianya bertemu dengan first lovenya.
”Sekarang janji sudah terpenuhi,sekarang aku ingin kamu jadi.....pacarku,kamu mau...?”tanya Keisuke gugup
”iya....keisuke”jawabnya
”terima kasih,Comet”......
TIBA-TIBA ADA BEBERAPA SUARA YANG MENYORAKINYA
”cye......Comet!!!’kata Sakura
”SAKURA”teriak Comet.dan kemudian Take,Sakura,Mira,dan Haruka pun turun ke pantai.dan sepertinya Haruka membawa sesuatu
”Comet,aku ngak nyangka lo...klo endingnya jadi begini”goda Mira
”Sakura...ternyata rencana kita berhasil ya!”kata Haruka pada Sakura
”iya”jawabnya
”Hoy......jadi ini rencana kalian berempat??”tanya Comet
”sudah pasti.Aku ingin menyatukan kalian.Karena kata Keisuke,dia punya teman masa kecil.dan namanya pun COMET ASAHINA”kata Sakura jujur
”eh,tapi selamat ya kalian sudah menyatu”kata Mira
”Comet,sebenarnya kamu baru tiga bulan jadian.Aku sengaja membohongimu karena aku ingin kamu datang ke pantai kenangan ini”jelas Take
”tapi selamat ya,kalian da jadian”sambung Haruka
”terima kasih”jawabnya malu
”Keisuke,kamu jangan bicara secara ketus lagi pada Comet.”kata Mira
”iya...kak mira”jawabnya ketus
”tuh kan!!ketus lagi!”kata Mira
”hey,sudahlah.Daripada betengkar,gimana kalau kita rayain aja pesta jadian ini!!”ajak Haruka
”Ayooo”jawab semua yang berada di pantai
.....Cinta pertamaku sudah kutemukan.dan sekarang aku bisa bersama orang itu selamanya....
EnD....
Please Tell Him…, that I Love Him
“Eh, Tina, kuharap kita bisa duduk bersebelahan di pesawat nanti”
“ Lho…. Katanya ingin duduk dekat jendela ? kalau kita bersebelahan kan salah satu dari kita tidak leluasa memandang keluar. “ jawab Tina sahabatku.
“ Iya juga ya….. ngomong-ngomong aku takut mabuk udara, nih “
“ Karin….Karin, kau ini ngakunya bercita – cita ke Amrik. Lha kalau terbang ke Singapura aja kamu mabuk, gimana ntar ? apa kamu mau berenang ke Amrik sana ?”
“ Ya…. Itu kan Cuma cita- cita. Aku sudah senang banget kok bisa berangkat KKL ke Singapura bareng teman seangkatan. Sayang, ya kelompok kita nanti di Singapura beda. “ jawabku.
“ Sudahlah….. ngaku saja, kamu ingin masuk kelompokku karena ada aku, atau karena ada……aduh !!!!! jangan nyubit dong” Kata Tina sambil senyum-senyum penuh arti.
“ Tina !!!!! jangan keras- keras, nanti dia dengar. “ kataku sambil mencubit lengannya.
Yah, memang hanya Tina yang tahu apa yang kupendam selama ini, tentang perasaan penuh gejolak, yang telah mengacaukan emosiku berbulan- bulan, hari – hari ketika aku sering merasa gembira atau gelisah, hampir tanpa alasan yang masuk akal. Hari – hari yang terasa bagai musim semi, ketika aku menyadari ada seseorang yang istimewa di hatiku. Atau bagai musim dingin yang panjang, ketika aku ragu apakah perasaanku terbalas.
Ian….., entah kapan ia akan menyadari bahwa namanya sudah terukir indah di hatiku. Sebenarnya ia tidak terlalu populer, seperti Rico yang anak band, atau seperti Martin jago basket kampus, atau seperti teman –teman lain yang terkenal cute dan kaya. Ia cowok sederhana yang tidak menonjol. Namun di mataku, Ian justru menarik…..dan makin menarik, saat aku tahu ia sebenarnya cerdas, meski tidak suka menonjolkan diri. Seperti ketika….
“ Hayo…..melamun terus ! “ Kata Tina yang membuyarkan lamunanku. “ ini tiket kita berdua. Lihat, aku dapat nomor 18 A. Aku bisa duduk dekat jendela, nih.” Sambungnya lagi.
“ Yah….kursiku nomor 17 B, di tengah deh…..gak bisa bebas ngliat pemandangan. Eh kamu tahu siapa yang kira –kira duduk di sampingku ? mau tukar gak,ya?”
“ Kayaknya si Adit dapat nomor 17 A. tapi yang dapat nomor 17 C aku gak tahu siapa. Sudah…. Anggaplah kamu kali ini belum beruntung. “ kata Tina sambil tertawa.
Pertama kali naik pesawat terbang ! Maklum, anak desa… rasanya aku ingin menikmati tiap detik perjalanan ini. Aku mulai belajar memakai sabuk pengaman,dan….aku membaca keterangan di kursi mengenai pelampung penyelamat. Karena penasaran, aku menarik pelampung itu….
“ …. Anda dilarang mengambil pelampung yang ada di bawah kursi…..”
kudengar suara pramugari yang sedang memperagakan alat –alat penyelamat, tepat saat pelampung itu kutarik lepas. Kontan saja mukaku merah padam….
“ hahahaha…. Makanya jangan usil ! “ kata Adit yang duduk disampingku. “ Dasar udik !!!” kudengar Tono yang duduk di samping kananku turut menertawaiku. Sialan ! bukannya mbantuin, malah mentertawakan ke tololanku. Sementara aku dengan susah payah berusaha mengembalikan pelampung itu.
“ hei…Karin, Kau ini macam tikus dalam lubang saja. Dari tadi menjenguk jendela terus. Sudah…sudah…kita tukar tempat saja. “
“ Asyik….. thanks ya Adit…” kataku dengan gembira. Akhirnya aku bisa duduk dekat jendela.
Uhh….lama-lama bosan juga….Cuma awan putih bagai bulu domba saja yang dapat kulihat. Ngapain lagi, ya? Eh..ya Ian duduk dimana,ya? Astaga! Ia duduk hanya beberapa kursi di depanku. Jangan-jangan tadi ia mendengar kekonyolanku. Wah apa pendapatnya nanti ?
Ian…hampir setahun aku mengamati dirimu diam-diam, dan menyimpannya dalam-dalam di hatiku. Tapi aku tidak pernah dapat mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Ian…rasanya pintu hatimu tertutup rapat bagiku. Ah…betapa sukar aku menggapai hatimu…Ian.
*****
Hm…. Singapore river…..eloknya !!! seandainya tidak hujan, pasti banyak foto-foto bagus yang dapat dibuat. Ayolah ….hujan, berhenti dong ! Masa untuk berhujan-hujan saja kami mesti pergi ke Singapura ? Tapi asyik juga, sambil menunggu teman-teman sholat, aku bisa” hunting” foto bule –bule yang juga berteduh. Tanpa izin…tentunya !
”Hayo ngapain??? Nakal,ya? “ tanya Aurelia temanku sekelompok.
“ Lho kesempatan bagus ngapain dilewatkan? Eh, disebelah sana ada yang cakep, tuh.”
“ ah…dasar Karin, bule kayak apapun pasti dibilang cakep “ Kata Aurelia sambil tertawa.”Ngomong –ngomong, ntar lagi kamu pasti senang, deh. Kita akan ke Merlion Park, dan kelompok Tina juga ada di sana.” Sambungnya. “Kelompok Tina? Kalau begitu, Ian pasti ada di sana juga” tentunya kata-kataku yang terakhir ini tidak kuucapkan.
“Hei, Tina! Hari ini kemana saja? Sudah ke Fullerton?” Tanyaku pada Tina
“ iya…keren banget,ya… O ya,tadi kami hampir tersesat,lho ke…. He !!! kamu ndengerin gak sih? Kalau mau ketemu Ian,aku panggilin,deh! “ kata Tina sewot, ketika dilihatnya mataku ke mana-mana.
“Iya…iya jangan marah, Tina”
Tiba-tiba Ian duduk menggabungkan diri. Rasa –rasanya ia bisa mendengar detak jantungku. Sementara Tina justru senyum-senyum.
“ Hallo Karin, wah kamu sudah beli oleh-oleh,ya?”
“Oh…ah…Nggak,kok…itu cuma buku-buku tentang Waterfront”
“Aku lihat, ya…”
Aku hanya menganggukkan kepala. Lidahku rasanya kelu,tidak seperti biasanya, semua yang ingin kuceritakan pada Tina menguap tanpa bekas. Dan rupanya Ian menyadarinya, ia segera pamit dan beranjak pergi.
“ Tina, menurutmu apakah sebaiknya aku mengatakan perasaanku padanya ? “
“ Ian maksudmu? Lho…jadi ngomongin itu. Tapi …yach…kalau itu meringankan perasaanmu, apa salahnya? Karin, kulihat selama setahun ini kamu sangat tertekan. Kuliahmu jadi asal-asalan gitu. Dan kadang…aku melihat keceriaan semu di wajahmu. Engkau tertawa-tawa, tapi sorot matamu tetap tidak dapat berdusta, kalau ada yang kau pendam…”
“Yea…kesedihan karena memendam cinta. Sialan ! cengeng sekali aku ini,ya. Wah, Tina jangan kau sangka aku senang seperti ini. Aku juga kesal pada diri sendiri! Kadang aku pikir bahwa suatu saat nanti aku harus bilang bahwa aku suka padanya. Tapi … apa itu pantas ? Seandainya ada yang dapat membantuku…”
“Tenang saja, ia tidak akan menyakiti hatimu. Aku tahu betul kalau hati Ian baik.” Kata Tina menenangkanku.
“Justru itu, aku tidak ingin membebaninya dengan perasaanku. Ia begitu baik…dan menurutku agak tidak tegas…maksudku, ia tidak akan sampai hati…”
“Eh…mungkin kamu bisa menyatakannya secara tidak langsung, dengan lagu misalnya, atau …dengan puisi…” potong Tina
“Kalian ini, biar tidak sekelompok, sekali ketemu langsung lengket seperti perangko. Aku foto, ya…” Kata Aurelia tiba-tiba.
Sejenak kulihat Ian hendak menggabungkan diri, ketika aku dan Tina hendak berfoto. Tapi…tidak jadi !
“ Tina, Karin kita foto,yuk! Back groundnya patung singa aja. Hari sudah gelap, lampu-lampu sudah dinyalakan, pasti indah sekali…”ajak Ian. Aku agak ragu menerima ajakan Ian, tapi Tina langsung menyeretku mengikuti Ian.
*****
Hari-hari di Singapura yang panjang, panas, dan melelahkan…observasi-observasi, membuat sketsa-sketsa, presentasi, jalan kaki menjelajahi hampir seluruh sudut kota….ah, kaki terasa mau lepas saja ! Aku senang ! Tapi kadang aku merasa hampa. Saat aku duduk membuat sketsa taman,bangunan, atau sitting group, tanpa kusadari mataku mencari-cari…, sementara hati ini berharap akan melihat sosok Ian di tempat itu.
“ Hari ini hari terakhir. Kita akan Free Observation di Orchard Road siang ini. Bagi yang ingin mengunjungi Pulau Sentosa sore nanti, harap berkumpul di depan Lucky Plaza pukul 16.00 tepat.”kudengar ketua kelompok memberi perintah. Kudengar Tina juga ingin pergi ke sana. Senang hatiku memikirkannya.
Aku sengaja memisahkan diri dari kelompok. Mereka hendak berbelanja souvenir, sementara aku mencari toko buku yang kata Tina harga bukunya murah-murah. Masih pukul 14.30…masih ada waktu pikirku. Lama juga aku berputar-putar mencari toko itu, tapi tidak juga segera ketemu. “ aduh beneran gak sih, yang Tina bilang itu?” pikirku dalam hati.
Lho jam di tanganku masih menunjukkan pukul 14.30. Astaga !!! sudah berapa lama jamku mati? Segera aku berlari menuju Lucky Plaza… dan tidak ada teman-teman di situ. “ jam berapa sekarang? Teman-teman dimana? Atau aku pergi ke stasiun MRT Dhoby Ghaut saja, mungkin aku masih bisa menyusul teman-teman…atau…
“ Lho Karin, tidak ke Pulau Sentosa ? “
“I…Ian? Jam berapa sekarang? Aku ingin pergi, tapi tadi jamku mati jadi…”
“ Jam 17.05. Wah, kelompokmu sudah berangkat tadi.”
“Oh…lalu Tina juga pergi ke Sentosa?” Rasanya lututku lemas, karena lelah, kecewa, dan berdebar-debar sekaligus.
“ Tidak…ia pergi ke Marina Bay. Sudahlah tidak usah kecewa gitu. Kamu bisa pergi denganku ke Fountain of Wealth. Tidak kalah bagus dengan Pulau Sentosa!” Kata Ian ketika melihat wajahku sedih. Hm…Ian,selalu tidak tahan melihat orang bersedih. Setelah beberapa lama, aku mulai dapat menguasai diriku. Aku mulai dapat bercakap-cakap dengannya.
“Fountain of Wealth? Maksudmu yang di SICEC itu? Kita kemarin kan sudah kesana. Tanyaku.
“ Iya sih, tapi kmaren kan perginya siang. Ada pertunjukan yang bagus,lho jam 8 malam nanti. Tidaak kalah,kok dengan yang di Pulau Sentosa. Ada pertunjukan laser, musik,di fountainnya, dan kita bisa kirim-kiriman lagu dan pesan,lho.” Ujarnya sambil“ berpromosi”
“Hah???!!!”pikirku dalam hati, “ Lagu dan pesan…aduh…beranikah aku menggunakan kesempatan ini?”
Fountain of Wealth…kemarin siang, ketika pemandu meminta kami mengelilingi air di situ, sambil mengucapkan keinginan, aku meminta pada TUHAN agar…ah,seandainya Ian tahu…seandainya terkabul…
Banyak orang seusia kami duduk-duduk di sekeliling Fountain of Wealth. Sebagian besar diantara mereka mengirim pesan selamat ulang tahun untuk temannya. Suasananya romantis sekali…. Seandainya waktu dapat berhenti…
“ Karin, aku haus banget nih, kamu bawa minum ? “
“ Ya bawa sih, tapi kan sudah aku minum sebagian.”
“ Sudah deh, kesinikan saja…” Katanya berkeras.
Aku hanya memandanginya menghabiskan air minumku, sambil berpikir…kalau aku mengungkapkan perasaanku….kalau ditolak di depan umum, bagaimana?aku….aku tidak berani menghadapi resikonya, tapi…..
“Ian,kalau kita mau pulang ke Hotel,kita ke stasiun MRT City Hall, ya? Lalu turun dimana? Perlu ganti MRT tidak ?” tanyaku.
“Tidak perlu ganti, nanti kita turun di Aljunied. Stasiun MRT terdekat dari hotel kita.”
“ Tunggu sebentar, ya Ian” kataku sambil beranjak meninggalkan Ian.
Aku hanya berani memandangi Ian daari kejauhan, ketika operator Fountain of Wealth berkata,” Now,request from Karin,…. Tell Him…. This song is special for Joseph Ian Prasetya, Joseph, I love you…”
“……I’m scared, so afraid to show I care
will He think me weak, if I tremble when I speak
Oh what if, there’s another one He’s thinking of
Maybe He in love, I’d feel like a fool
Life can be so cruel, I don’t know what to do
I’ve been there, with my heart out in my hand….”
Ah …setiap mendengar lagu “Tell Him” Barbara Streisand dan Celine Dion ini seakan hatiku teriris-iris. Liriknya seakan mewakili perasaanku setahun ini. Betapa sulitnya aku menahan cinta di dada ini. Hari- hari ketika aku berupaya merangkai kata…demi kata untuk menyatakan cinta. Ketika semua itu dibayangi kemungkinan kegagalan. Mungkin hati Ian sudah terisi dengan cinta yang lain….Ian kapankah engkau akan mengerti?…Ian tidak adakah celah di hatimu untuk ku? Semoga setelah malam ini aku akan lebih ringan melangkah, meski aku harus belajar melupakan Ian…
“ Karin…”
Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh sentuhan lembut di pundakku.
“Wah…Ian!!!!! Gawat…kalau mau ke City Hall lewat mana,ya? Aku …aku tidak ingin menatap wajahnya sekarang” pikirku sambil melepaskan diri dan segera berlari. “ Bodoh!!! Nanti di hotel juga pasti bertemu…tapi… itu dipikirkan nanti saja. Setidaknya aku dapat bersiap-siap dulu.”
“Fuhh…!” berhasil juga aku mencapai MRT tanpa terkejar oleh Ian. Untung aku masih mendapat tempat duduk. Sambil memejamkan mata, aku mengatur nafasku. “ Ya TUHAN apakah aku sudah gila??? Apa kata Tina nanti? Aduh…semoga langkah yang kuambil sudah benar…..”
“Are you OK?”
“Yeah…I’m …fine…” kataku sambil membuka mata. Aduh kagetnya…! Kukira Keanu Reeves duduk di sampingku. Ia tampak khawatir melihatku. Benar-benar sama dan sebangun dengan Keanu Reeves dalam “Devil Advocat”
“Are you a Japanesse?” tanyanya lagi.
“No, I’m an Indonesian” jawabku.
“Oh…I see”
mimpi apa aku semalam? Sepanjang sore bersama Ian, dan sekarang duduk bersebelahan dengan “Keanu Reeves”.
Hotel masih sepi. Mungkin karena ini malam terakhir, teman-teman hendak berjalan- jalan sepuasnya. Sejenak aku merebahkan diri di kasur. Aku lelah, penat, tapi pikiranku tidak bisa lepas dari kejadian di Fountaain of Wealth tadi. Tiba-tiba pesawat telephone di meja berdering…
“Hallo…Karin?”
suara….Ian…segera aku ingin meletakkan gagang telephone, tapi…
“ a…..Karin….jangan ditutup dulu….”
###################################
"BIARKAN KENANGAN ITU BERLALU"
Sudah lima hari Nadya menjadi guru les privat Bimbo. Dengan mengajar Bimbo , Nadya kini menemukan keceriaannya yang telah lama hilang. Wajah ayunya yang selalu tertutup dengan kemuraman kini telah menjadi wajah ayu yang selalu tersenyum bila melihat kelucuan Bimbo. Meskipun Bimbo sendiri kadang juga nakal, tapi kenakalan itu tak lepas karena Bimbo masih anak-anak.
“kak menala yang ada di palis itu apa sih namanya?’ Tanya Bimbo dengan nada khasnya yang belum bisa menyuarakan huruf R.
“eifel..”, jawab Nadya lembut.
“eipel?”, ulang Bimbo belum puas. Nadya mengangguk.
“menala eipel sama monas itu tinggi mana sih kak?”, Tanya Bimbo lagi.
Nadya tak menjawab. Kata monas mengingatkannya pada seseorang yang selama ini selau dia kenang. Kenangan itu begitu nyata dia ingat. Ketika Angga memutuskan hubungan indah itu di monas. Monas sebagai lambang kebanggaan Indonesia baginya adalah sebagai lambang hancurnya cinta sucinya. Tak ada yang tersisa bagi Nadya selain kekecewaan yang teramat sakit ketika tahu Angga lebih memilih kekasihnya dari pada dirinya yang berstatus kekasih gelap.
“lho..kok diam sih kak..” komentar Bimbo.
“eh..apa sayang?’
“yah kakak…Bimbo nanya menala Eifel sama monas itu tinggian mana?”
“oh jelas tinggi Eifel dong sayang” jelas Nadya. Bimbo manggut-manggut puas.
Semenit kemudian telephone berdering. Dengan langkah jingkrak-jingkrak Bimbo meraih gagang telepone. Nadya hanya melihatnya dengan senyum geli. Cowok kecil yang selalu kesepian tanpa ditemani orang tuanya sehari-hari itu komat-kamit menjawab telepone. Begitu telepone ditutup , Bimbo malah berlari keluar kamar.
“Bimbo mau kemana sayang?”
“bimbo mau nemuin kakak Bimbo. Dia ada di lual balu pulang dali palis.” Jawab Bimbo diantara langkah larinya , meninggalkan Nadya sendirian di kamar. Ya.. Nadya ingat Bimbo pernah cerita jika kakaknya berkuliah di Paris. Makanya Bimbo selalu banyak bertanya tentang Paris.
“kak Nadya kenalin ini kakak Bimbo…”, kata Bimbo sudah kembali ke kamar dan menggandeng seseorang yang berpawakan jangkung. Nadya bangun dari duduknya. Matanya tajam menatap kakak Bimbo. Sulit dia percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedua mata Nadya berbenturan dengan tatapan mata kakak bimbo.
“hai Nad…..”, sapa kakak Bimbo membuka pembicaraan.
Nadya tak kuasa untuk menjawab, mengetahui kakak Bimbo adalah Angga. Pria yang tidak pernah lekang dari pikirannya walau sekejap.
Nadya berusaha tersenyum simpul membalas sapaan Angga.
“gimana kabarmu nad?”
“baik, kamu?”
“baik juga”
“oh jadi kak Nadya sudah kenal sama kakak Bimbo. Kalau begitu kalian ngoblol dulu. Bimbo lapel mau makan.” Pamit Bimbo meninggalkan kamar.
Keadaan menjadi hening karena kedua makhluk bernyawa itu masih enggan untuk saling bertanya. Mereka terlihat kikuk bertemu dalam waktu yang tak terduga itu.
“kamu masih memakai cincin itu?”, Tanya Angga kemudian ketika mengetahui cicin perak yang melingkar di jari manis Nadya. Nadya sendiri lupa untuk mengembalikan cincin itu ketika hubungannya dengan Angga telah berakhir.
“ya, karena bagiku cincin ini teramat berarti. Tidak sepertimu yang mungkin cincin dariku sudah kamu buang.”, jawa Nadya sedikit sinis.
“siapa bilang aku membungnya?”, sanggah Angga memperlihatkan cincin perak dari Nadya beberapa tahun yang lalu. Cincin itu masih tetap ada di jari manis angga.
“buat apa kamu masih menyimpannya. Tidak ada gunanya bukan?”
“dan kamu sendiri kenapa kamu menyimpannya, karena itu juga tidak ada gunaya kan?”, kata Angga balik tanya.
“bagiku ada tapi tidak bagimu. Aku punya cinta ynag tulus padamu yang selama ini tidak bisa aku hapus dengan cara apapun. Tapi sayangnya cintaku terbalas hanya sebagai cinta shepia”
“aku tidak menganggap kamu shepia nad, karena aku juga mencintaimu”
“sudahlah Ngga jangan membual. Aku sudah terlalu sakit dengan keputusan itu. Kamu telah mebuat semuanya hanya untukmu dan setelah aku sadar aku adalah Shepia . kekasih gelap yang harus kehilangan cintanya karena di pihak lain ada orang yang lebih berhak atas cinta itu.” Kata Nadya pilu.
Matanya telah tergenang air hangat. Kalimatnya yang awalnya tegas kini mulai menyurut bernada rapuh.
“kamu juga berhak nad atas cintaku, karena sampai saat ini cinta itu selalu ada untukmu”
“apa! Aku berhak? Lalu bagaimana dengan kekasihmu, apa kamu tidak mencintainya? Kamu pasti mencintainya kan ngga?” , Tanya nadya.
Angga tak menjawab karena pertanyaan itu baginya sulit untuk dia jawab.
“seharusnya kamu tidak memulai cinta diantara kita Ngga, karena yang ada kamu akan menyakiti hati banyak orang termasuk aku. Akulah yang selama ini paling menderita karena aku tidak bisa melupakanmu”.
Nadya segera menghapus air matanya ketika melihat Bimbo datang.
“kak Nadya tidak makan?” , Tanya Bimbo.
“tidak sayang, kak Nadya pulang dulu ya ,ada urusan”, pamit Nadya.
Bimbo melongo tak mengerti melihat kepergian Nadya. Sementara itu Angga hanya terdiam mematung memikirkan sesuatu. Tak seharusnya pertemuan itu terjadi, karena semua itu hanya akan kembali menorehkan luka di hati Nadya. Kenangan itu memang telah berlalu dan Angga selalu ingin membiarkannya. Tapi semua terasa sulit. Cintanya pada Nadya membuatnya begitu bimbang untuk meraih masa depannya.
Tak ada bintang di langit. Yang ada hanya gelap dan gelap, segelap hati Nadya saat itu. Suasana pesta malam itu bagi Nadya adalah puncak dari sakit hatinya. Ketika sejam yang lalu Angga telah resmi tunangan dengan kekasihnya. Nadya sendiri tak ingin terlihat rapuh di mata Angga, karena itu dia hadir dalam pesta pertunangan Angga.
Nadya telah meniggalkan ruangan yang ramai akan tamu undangan itu. Nadya menikmati kepedihannya dengan berdiri di luar ruangan diantara hamparan rerumputan manila yang tak bisa bicara. Rumput itulah saksi bisunya, yang melihat linangan air matanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Bukan hal yang aneh jika dalam kisah cinta itu harus dia yang terluka dan menderita. Dia harus rela karena statusnya hanya Shepia, seperti lagu Sheila On 7. seorang kekasih gelap yang harus di selamat tinggalkan. Nadya tahu tak ada yang layak untuk dia miliki saat itu kecuali sakit hati. Tapi bukankah itu tak bisa dirubah, karena Angga telah memutuskan untuk lebih serius pada kekasih sejatinya. Kisah cintanya memang benar-benar harus berlalu. Cincin darinya yang dulu ada di jari manis Angga kini telah berpindah di jari tengah Angga. Jari manis Angga kini sudah terisi oleh cincin tunangan..
Nadya lelah memikirkan itu semua. Air matanya benar-benar tak bisa dia cegah lagi, mengalir begitu saja. Sampai tangan seseorang memberikan sapu tangan untuknya. Nadya menerimanya dan menghapus air matanya.
Nadya mulai menarik sudut-sudut bibirnya, berusaha tersenyum walaupun batinnya cukup menangus. Nadya sadar itu bukan cuma kesalahan Angga jadi tidak adil jika dia harus menyalahkan Angga.
“selamat ya Ngga kamu sudah resmi tunangan, aku turut bahagia. Dia gadis yang cantik dan baik yang tentu pantas buatmu.”
“aku tahu perasaanmu Nad, kamu tidak bisa membohongiku. Kamu pasti kecewa padaku saat ini.”
“memangnya kenapa kalau aku kecewa, karena kamu tidak akan bisa menyembuhkannya. Siapapun tidak akan tahu dimana letak obatnya. Aku sudah sadar siapa aku. Aku adalah Shepia kenangan lalumu.”, ucap Nadya. Kali ini air matanya kembali turun.
“ada kalanya aku berfikir tentang sesuatu yang selama ini tak kumengerti. Kenapa aku bisa memutuskan hubungan itu padahal aku masih mencintaimu. Tapi di sisi lain aku juga tidak bisa untuk memilihmu:
“aku tahu itu. Kamu lebih memilihnya karena dia memang yang lebih dulu mencintaimu bukan aku seorang Shepia.”
“Nad….maafin aku. Sekali lagi aku mohon jangan pernah kamu menganggap kamu adalah Shepia karena aku sangat mencintaimu dan sejujurnya aku tidak ingin menyakitimu. Aku ingin membahagiakanmu tapi aku juga tidak tahu bagaimana caranya. Percayalah nad aku sayang kamu sampai kapanpun. Jika masih ada kesempatan hidup untuk kedua kalinya aku ingin terlahir dalam nafas cinta selalu terukir namamu….”
Perlahan Angga mengecup lembut bibir Nadya. Nadya hanya terdiam kaku. Membiarkan Angga merengkuh tubuhnya. Nadya merasakan kehangatan cinta itu. Namun sayangnya kehangatan itu tidak sempurna untuk dia miliki. Keduanya sama-sama terluka malam itu. Bagi mereka biarlah kenangan itu berlalu menjadi kenangan yang tak patut untuk dikenang tapi bukan untuk dilupakan.
(TAK ADA CINTA YANG BENAR-BENAR SEMPURNA...)
I Hate Tatto (part 1)
“Aku nggak suka cowok bertato, terkesan jorok dan brandal.”
Itu alasan paling terkonyol yang pernah kuucapkan dari beribu ucapan penolakan yang pernah kuutarakan, baru kali ini aku menolak seorang cowok dengan alasan yang seolah begitu dibuat-buat. Hanya karena tato bergambar bunga melati yang menempel dikulit pria blesteran Jawa Belanda ini, aku yang tidak bisa menampik rasa sukaku padanya terpaksa menolak penawaran cintanya padaku.
Simon manyun, kemudian bergumam pelan. “Lulu, alasanmu aneh, kalau nggak suka bilang aja. Aku bisa terima kok. Tapi, please, jangan bawa-bawa tato segala.”
Aku mendesah pelan, tersenyum tipis menanggapi komentar Simon. Aku faham kenapa dia tidak bisa menerima alasanku tadi, tapi kenyataannya memang seperti itu, aku memang tidak suka dengan cowok bertato, meski Simon seagama denganku, yaitu Islam tapi dia tidak mencerminkan ke-islamannya itu, nggak ada imannya sama sekali, nggak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, juga terkesan jorok, padahal tanpa tato pun, penampilan Simon tetap terlihat macho dan keren.
“Terserah kamu mau percaya atau nggak. Aku bicara sesuai logika, aku benar-benar nggak suka cowok bertato.” Ujarku bersikeras, menyakinkannya agar bisa menerima keputusanku.
Meski berat, tapi aku tak mungkin menaikkan status Simon yang selama sebulan ini adalah seorang teman baikku, menjadi seorang pacar. Bahkan tak perlu kupungkiri, Simon adalah orang yang selama ini membawaku terbang tinggi ke angkasa, aku selalu merindukannya jika ia tak pernah ke rumah meski hanya sehari saja. Ya, aku mencintai Simon.
Entah bisa menerima atau tidak, yang jelas Simon pulang dengan wajah tertunduk lesu, meski berkali-kali aku memanggil namanya Simon tak juga berpaling. Simon marah?
***
Bodohnya aku, seandainya saja waktu itu alasan yang kuutarakan bukan karena tato, mungkin Simon bisa terima. Hingga aku yakin, jadinya tidak bakalan seperti ini, Simon benar-benar hilang dari kehidupanku. Tak ada kabar sama sekali, meski telah kucoba untuk menghubunginya lewat via telepon, dan telepon tersambung, Simon tak pernah mau menerima telepon dariku. Juga ketika aku menemuinya di tempat kos, teman-teman yang sekamar dengannya selalu menggeleng cepat ketika kutanyakan keberadaannya. Dan semua itu berlalu selama seminggu.
Di pelataran mesjid, aku bersama sahabat dekatku Viona duduk bersila. Kami baru saja selesai pengajian, kegiatan yang rutin kami lakukan setiap hari kamis malam jum’at. Sebagian orang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, dan di masjid yang ukurannya paling besar di antara mesjid-mesjid di kotaku ini hanya tinggal lima orang saja, aku dan Viona, penjaga mesjid, seorang ustat dan anak laki-lakinya yang masih berusia sekitar sepuluh tahun.
Aku memang ingin berlama-lama disini, sebab sudah menjadi kebiasaan kami berdua, ketika pengajian usai kami akan bercerita tentang apa yang terjadi selama seminggu ini. Viona, yang meskipun letak rumahnya tak jauh dari rumahku selalu saja sibuk dengan aktifitasnya sebagai seorang guru ngaji privat. Sebagian orang pasti sudah mengenal sosok Viona yang terkenal alim dan ketekunannya dalam mengajarkan murid-muridnya mengaji. Dan aku sebagai sahabatnya sangat kagum dengan keperibadiannya itu.
“Kasihan kamu. Kenapa bisa suka sama cowok begitu sih?” Viona mendesah ketika aku menceritakan tentang perasaan gundahku saat ini.
“Kata-kata kamu seolah memvonis kalau Simon itu bukan orang yang baik.”
“Habisnya kamu sendiri kan yang bilang nggak suka sama dia karena bertato.”
“Iya sih. Tapi jangan bilang ‘cowok begitu’ kemudian mendesah seolah Simon emang beneran orang yang nggak beres.” Aku membela Simon. Lagi-lagi Viona mendesah pelan, tapi desahan itu membuatku sadar, ternyata tato itu benar-benar bermasalah, membuatku bingung sendiri apakah aku harus mempersalahkan kata-kata Viona yang sebenarnya tak ada maksud apa-apa, tapi bagiku terkesan mengejek.
“Maaf. Aku kelewat suka sama dia.” Ujarku akhirnya.
Viona tersenyum, memegang tanganku. Kuharap ia mengerti perasaanku.
“Asal jangan berlebihan ya, Lu. Takutnya nanti jadi babu, diperbudak oleh cinta yang semu.”
Benar kata Viona, mungkin aku kelewat suka, dan kuharap tidak berlebihan seperti yang dikhawatirkan Viona. Karena aku sadar, meski keputusan yang kulakukan ini berat, tapi aku yakin apa yang kulakukan ini benar.
***
(bersambung ke Part 2)
I Hate Tatto (part 2)
Hari yang cerah di pagi hari. Saatnya bekerja, aku pun melangkahkan kakiku melewati sebuah salon kecantikan yang terletak di pinggiran kota. Salon itu terkenal dengan keunikannya dalam membuat tato, hingga tak pelak lagi, seantero penduduk penggemar seni yang menurutku sangat jorok itu tak pernah sepi dengan pelanggan-pelanggan barunya. Dan setiap kali melewati salon itu, pertanyaan selalu saja muncul di benakku, kenapa salon ini bisa berdiri dengan megahnya tanpa ada tangan-tangan hukum yang berani untuk sekedar membongkar habis peralatan-peralatan pembuatan tato itu. Dan aku selalu mengutuk, semoga saja ketinggian bangunan ini menarik perhatian kilat dan petir, sehingga semua yang ada sangkut pautnya dengan tato di bangunan ini pun lenyap, termasuk orang-orang pembuat tato itu sendiri.
Dan ketika untuk kesekian kalinya mataku memperhatikan salon itu, tiba-tiba saja aku menangkap sesuatu, yang menarik perhatianku. Motor ninja biru dengan nomor plat yang begitu kukenal sedang terparkir di depan salon terkutuk itu. Aku yakin motor itu milik Simon, dan entah apa yang menarikku untuk segera mencari tahu kebenaran dari nalarku itu.
Tentu saja aku tidak masuk, orang akan berpikir aneh jika gadis berjilbab sepertiku memasuki salon yang begitu angker dari Tuhan itu. Aku menunggu di pinggiran jalan, sebuah warteg memberikan keteduhan untukku. Sambil sesekali menyeruput es tes manis dan menelan habis potongan sanggar kegemaranku, mataku tak lepas dari salon itu, berjaga-jaga dengan kemungkinan Simon akan keluar dari pintu itu. Aku mengutuk, kenapa bangunan itu tidak dibuat transparan saja, hingga memungkinkan aku untuk melihat Simon dengan mudah tanpa perlu harap-harap cemas seperti yang kualami sekarang ini.
Dua jam berlalu, Simon belum juga keluar. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi dikarenakan terlalu lama menunggu kemunculan Simon.
Hingga akhirnya aku mendesah pelan, bodohnya aku. Hanya karena rasa penasaran ini, aku telah melalaikan pekerjaan yang telah menungguku di kantor. Dan rasa penasaran yang menuntunku untuk tetap menunggu selama hampir dua jam ini ternyata sia-sia. Simon tak juga menampakkan batang hidungnya, seolah ia ditelan mentah-mentah oleh bangunan sialan itu.
Alhasil, sampai di kantor aku dimarah habis-habisan oleh bosku. Terlambat dua jam, bayangkan itu. Andaikata hitungannya menit, mungkin keteledoranku itu masih bisa ditolerir. Tapi jika keterlambatanku itu hingga dua jam, dan andaikata ini adalah sebuah olimpiade mungkin aku adalah pemecah rekor, kemudian mendapatkan tropi dan medali. Bangganya aku.
***
Bersambung...
I Hate Tatto (End)
Malamnya, ketika aku hendak pulang dari sholat magrib di mesjid, aku melihat perkelahian yang tidak seimbang. Seorang pria berkulit putih yang mengenakan kopiah hitam terlihat babak belur dikeroyok dua orang pemuda yang terlihat sepeti tukang palak. Bukannya aku berlagak sok pahlawan, tapi melihat kejadian itu, naluriku sebagai seorang yang pandai dalam ilmu bela diri tiba-tiba saja bangkit. Aku berlari cepat ke tengah perkelahian. Kaget, karena pria yang wajahnya yang tadinya putih kini berubah merah karena lumuran darah itu tak lain adalah Simon. Tak ingin berlama-lama larut dalam keterkejutan itu, aku melayangkan tendangan ke iga salah seorang pemuda, sedangkan yang satu lagi terpaksa meringis kesakitan ketika kuberikan bogem mentah tepat mengenai hidungnya.
“Apa-apaan, nih?” yang saya tonjok spontan berteriak sambil terhuyung mundur memegangi hidungnya yang mungkin patah.
“Kenapa, protes? Ke hutan sana, beraninya main keroyok aja.” Ujarku lantang, sempat kulihat rona kekhawatiran di wajah Simon. Tapi aku tak peduli, sepertinya sudah waktunya aku mempraktekkan ilmu yang selama ini kupelajari dari guru silatku.
Mereka ciut, tapi masa bodo’, tanpa memberi kesempatan aku langsung menyerang dua pukulan berturut-turut. Satu berhasil ditangkis, sedangkan yang satunya lagi kena tepat di pipi. Pukulan yang sangat berisi membuat para pengeroyok itu langsung terhuyung pergi meninggalkan kami.
“Makasih ya.” ucap Simon setelah semuanya berakhir.
Aku tersenyum bangga. Seraya cengar-cengir sendiri membayangkan aksi hebatku tadi. “Ya. kamu nggak apa-apa kan?” tanyaku berusaha khawatir.
Simon menggeleng. Meski aku yakin ia sangat tersiksa dengan luka memarnya itu, tapi aku salut padanya, setidaknya Simon tidak berlaku cengeng dihadapanku.
“Ke rumah ya. aku obati lukanya.” Pintaku sambil menyunggingkan senyum termanis yang kupunya.
Tanpa berkata apa-apa Simon mengangguk. Kami pun berjalan pulang menuju rumahku yang letaknya tak jauh dari tempat kami berada kini. Sesampai rumah, mama yang saat itu sedang duduk-duduk santai di teras bersama papa, terlihat kaget dan khawatir ketika aku pulang membawa seorang pemuda dengan memar diwajahnya.
Mama dan papa tampaknya lebih khawatir berbanding aku yang hanya menolong Simon karena mengharapkan imbalan ucapan terima kasih dari bibirnnya. Mereka berbagi tugas, papa menggotong Simon ke ruang tamu, membawakannya bantal, mama dengan telaten mengkompes luka Simon dengan handuk kecil yang dibahasi air dingin. Sedangkan aku? Hanya terpaku melihat tingkah mereka yang begitu sibuknya memberikan perhatian ekstra pada Simon yang sebenarnya sama sekali tidak sedang dalam keadaan sekarat dan aku yakin tidak membutuhkan perhatian yang berlebihan itu. Entahlah, mungkin aku iri saja kali!
“Kenapa sih bisa dikeroyok gitu?” tanyaku heran saat mama dan papa sudah kembali dengan urusan masing-masing. Entah berada dimana, yang pasti sekarang ini aku benar-benar hanya berduaan saja dengan Simon.
“Dipalak.” Jawab Simon singkat.
“Kok nggak dibalas?” tanyaku lagi.
“Nggak punya nyali.”
Lucu. Bukan jawaban seperti itu yang ingin kudengar, karena bagiku alasan itu terkesan cemen, memalukan untuk diucapkan oleh seorang laki-laki yang punya tubuh besar dan tato di tangan yang mencerminkan wajah sangar Simon. Tunggu dulu, berbicara tentang tato, ada sesuatu yang aneh kutemukan di lengan Simon, meski sebagian lengannya terbalut kain, tapi aku bisa melihat dengan jelas bekas luka bakar di lengannya itu. Tak salahkan penglihatanku? Aku sama sekali tidak menemukan tato yang selama ini bersemayam dikulitnya. Simon menghapus tato-nya?
“Jadi jelek deh tangan kekarku.” Gerutunya sambil cengengesan.
“Kamu menghapus tatomu?” tanyaku tak percaya, aku teringat kejadian pagi ini, ketika secara tak sengaja melihat motornya yang terparkir di depan salon kecantikan itu, mungkin saat itulah Simon menghapus tato di lengannya.
“Gara-gara nggak ada tato nih, rasa percaya diriku jadi hilang. Jadi nggak sangar lagi.” Aku terkekeh. Pandai juga ngelawak.
“Siapa suruh dihapus?” ledekku senang.
“Kamu.”
Tidak perlu munafik. Ucapan itu membuatku jadi S4 (Sangat-sangat senang sekali). Ternyata Simon mau mengorbankan tatonya demi aku. Aku tahu rasanya sakit, tapi aku sangat bersyukur ia mau menahan rasa sakitnya itu demi aku.
“Ahh… senangnya. Kamu tenang aja deh! Kan ada aku. Pahlawan kamu.” ucapku bangga membuat Simon terkekeh geli.
“Nggak mau, mana ada pahlawan cewek.”
“Ye… hari gini nggak ada pahlawan cewek? Ketinggalan zaman. Buktinya catwoman ada tuh.”
“Korban film kamu.”
Siapa yang tak senang? Kini semuanya kembali normal. Aku bisa dekat lagi dengan Simon, meski tak perlu jadian, setidaknya dia kembali lagi menjadi begian dari kehidupanku. Menjadi temanku yang dulu.
“Kamu, bisa ajari aku ngaji?” Simon mengusulkan sesuatu yang sangat tidak pernah kuduga sebelumnya.
Mengaji? Simon pengen belajar ngaji? Sesuatu yang sangat teramat langka untuk diucapkan. But, kalau dipikir-pikir lagi, so what? Simon beragama islam kan?
“Nggak lagi ngigau kan?” tanyaku seraya memasang wajah tak percaya.
“Aku serius.”
Ya.. ya.. ya.. tampaknya Simon sungguh-sungguh dengan ucapannya. Aku percaya kok, mungkin Simon benar-benar ingin merubah image-nya. Entah alasannya apa, aku tidak peduli. Apa pun itu, aku berharap alasannya masuk akal, dan bukan karena aku. Tapi memang sungguh-sungguh niat yang keluar dari lubuk hatinya yang paaaaaling terdalam. Karena ingin dekat dengan Tuhannya, Tuhanku juga.
Allah SWT. Amin.
“Kamu tahu nggak Lu, selama seminggu aku drop banget. Aku masih belum nerima alasan kamu yang nggak masuk akal itu. Dan saat sedang gundah gulana, seorang cewek menyadarkan aku, Lu. Dia membuat aku takjub dengan cermah-ceramahnya di mesjid sore itu, tentang tato yang begitu dibenci Tuhan. Aku trenyuh, Lu. Makanya aku bertekat menghapus tatoku. Aku sudah jatuh cinta padanya Lu, aku senang bisa ketemu sama dia. Aku nggak bakalan pernah lupa dengan nama Indahnya."Viona"
*** Sekian dan Terima Kasih ***
"I WANNA CHANGE SOULMATE"
Tak perlu menunggu purnama datang bersinar, datang saja padaku, katakan saja, ungkapkan saja, Ya' aku akan sungguh bersedia.
sudah lama ku menunggu pengganti dia, terus terang kamulah manusianya.
Kamu dapat buatku tersenyum saat kudengar suara dan lagumu, aku dapat berbinar, aku dapat bergetar saat mata kita bertemu.........
Kuingin datangnya suatu hari ketika kita bertengger dibawah purnama dan taburan bintang, ketika mata kita memperhatikan seluruh gemerlap isi langit.
Kuingin kita melakukan suatu peristiwa tak terlupakan, ketika kita berdua sadar telah menikmati keindahan dan kenikmatan MAHA KARYA yang kiti buat "Touch LIPS".
Kamu sayang.... Entah bagaimana aku dapat untuk mengungkapkannya padamu, bahwa aku ingin BERSAMAMU.
Menggantikan sosok lalu yang telah kelam.
Kuingin bersamamu menyapu kegundahan isi kepala yang carut marut.
Karena sepanjang hidupku aku hanya dapat menanti seseorang .... datang.
Hanya kamu seorang yang dapat menggantinya...
Aku begitu tersirat senyuman indah merekah saat mata ini dan matamu berjumpa, dan dengan dengan pekat sulit kulepaskan...
senyumanmu.. oh...
Hanya SENYUMANMU YANG DAPAT MENGUAK SEISI DUNIA, DUNIA DALAM HATIKU,
ssungguh....
Kamis, 12 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar